Blog Pasar Kota Gede YIA

Jalan Malioboro : Lebih Estetik dan Rapi Tanpa PKL

Jalan Malioboro – Haii sobat, bagi kamu yang sedang jalan-jalan ke Jogja. Pasti tahu kan yang namanya Jalan Malioboro ?? Tentu saja, Jalan Malioboro yang merupakan salah satu jalan utama di Jogja ini merupakan tempat wisata paling terkenal di Jogja. Tapi tau gak sobat ?? Kalau sekarang jalan yang ikonik di kota Jogja ini punya wajah baru lhoo !!! Tepatnya kondisi Malioboro sekarang sudah lebih rapih karna para Pedagang Kaki Lima atau PKL di kawasan trotoar Malioboro ini sudah tidak berjualan di area ini karna sekarang para PKL sudah dipindahkan ke kawasan Teras Malioboro 1 dan 2.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai jalan protokol yang menjadi ikon kota Jogja ini, akan lebih baiknya kita mengetahui sejarahnya dulu. Penasaran kan ?? Yukk kita simak !!!

Sejarah Jalan Malioboro

Malioboro merupakan nama salah satu jalan di pusat Kota Yogyakarta. Jalan Malioboro itu sendiri merupakan salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro, dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan Malioboro merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Asal nama Malioboro sendiri berasal dari bahasa sansekerta malyabhara yang berarti karangan bunga. Adapula beberapa ahli yang berpendapat asal kata nama Malioboro berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal di Jogja pada tahun 1811- 1816 M.

Pemerintah Hindia Belanda membangun jalan ini sebagai kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan pada awal abad 19. Malioboro mulai populer pada era kolonial (1790-1945). Ketika itu, pemerintah Belanda membangun Benteng Vredeburg tahun 1790 di ujung selatan Malioboro. Belanda juga membangun Dutch Club atau Societeit Der Vereneging Djokdjakarta (1822), The Dutch Governor’s Residence (1830), Javasche Bank, dan Kantor Pos.

Perkembangan Malioboro semakin pesat, ditambah dengan adanya perdagangan antara pemerintah Belanda dengan pedagang Tionghoa. Hingga tahun 1887, Jalan ini dibagi dua setelah Stasiun Tugu Yogya dibangun. Malioboro juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Di jalan ini pernah terjadi pertempuran hebat antara pejuang Tanah Air dengan pasukan kolonial Belanda yang dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pasukan Merah Putih berhasil menaklukkan kekuatan Belanda dan menduduki Yogyakarta setelah enam jam bertempur.

Hingga saat ini, Malioboro terus berkembang dengan tetap mempertahankan konsep aslinya dulu, Malioboro jadi pusat kehidupan masyarakat Yogya. Tempat-tempat strategis seperti Kantor Gubernur DIY, Gedung DPRD DIY, Pasar Induk Beringharjo, Teras Malioboro hingga Istana Presiden Gedung Agung juga berada di kawasan ini.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta terus melakukan perbaikan untuk menata Malioboro menjadi kawasan yang nyaman untuk disinggahi. Pada tahun 2016 ini pemerintah telah berhasil mensterilkan parkir kendaraan dari jalan ini dan tengah menata kawasan ini di sisi timur untuk pedestrian. Warung-warung lesehan hingga saat ini masih dipertahankan untuk mempertahankan ciri khas Malioboro. Kemudian pada tahun 2022, seluruh PKL di Jalan Malioboro dipindahkan ke Kawasan Teras Malioboro sehingga jalan ini menjadi lebih rapi dan nyaman untuk dilewati.

Jalan Malioboro

Kini Jalan Malioboro menjadi tempat wisata yang ramah bagi pejalan kaki dan menyediakan lebih banyak ruang bagi wisatawan untuk jalan-jalan. Kini wisatawan bisa lebih leluasa melewati teras pertokoan maupun jalur pedestrian. Di Malioboro, berbagai macam golongan masyarakat Yogyakarta maupun luar Yogyakarta baik dari kalangan tua maupun muda, pelancong, pelajar, pedagang, pekerja, dan lain sebagainya. Selalu meramaikan kawasan ini untuk jalan-jalan melepas rasa penat, duduk bersantai ria, bersenda gurau bersama pasangannya, dan mengambil gambar untuk mengabadikan moment penting. Yang pastinya, membuat para pengunjung jalan ini ketagihan untuk berkunjung lagi dan lagi.

Bagi sobat yang baru saja datang dari Jogja melalui bandara YIA ini. sobat bisa menaiki kereta bandara YIA dari stasiun bandara dan berhenti di stasiun Yogyakarta yang disitu dekat sekali dengan Jalan Malioboro. Adapun waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke stasiun Yogyakarta yaitu sekitar 1 jam 19 menit. Tetapi bagi sobat yang masih berada di ruang tunggu bandara YIA. Tidak ada salahnya untuk mampir bentar ke Galeri Pasar Kotagede YIA !!!

sibakul

Sibakul Jogja

You may also like...