Blog Pasar Kota Gede YIA

10 Tari Tradisional Yogyakarta Beserta Maknanya

Tari Tradisional – Jika kamu mendengar kata “Jogja”, apa sihh yang terlintas di pikiranmu ?? Pastinya yang terlintas dipikiran sobat adalah kota yang sarat akan keistimewaannya dengan berbagai macam tempat wisata yang menarik bukan ?? Tentu saja, Yogyakarta atau sering disebut Jogja merupakan daerah istimewa dan destinasi wisata terfavorit di Indonesia setelah Bali tentunya menawarkan berbagai macam pesona keindahan dan keunikan-keunikan didalamnya yang membuat nyaman pengunjungnya dan takkan bisa melupakannya.

Tidak hanya terkenal dengan destinasi wisatanya, Jogja juga terkenal dengan budaya nya yaitu tari tradisional Yogyakarta. Tari tradisional Yogyakarta masih lestari di era modernisasi ini. Tak heran, Jogja pun terkenal dengan budaya yang kental dan seni yang istimewa. Tarian tradisional Yogyakarta berkembang dari lingkungan keraton hingga berkembang sebagai seni pertunjukkan yang sakral dan syahdu. Pastinya sobat PKG YIA penasarankan apa saja tarian tradisional yang ada di Jogja ? Yuk kita simak !!!

Daftar Tari Tradisional Yogykarta

Disini Blog PKG YIA berhasil merangkum 10 tari tradisional Yogyakarta beserta maknanya.

  • Tari Serimpi
Sejarah Asal Tari Serimpi: Perlawanan Terhadap Penjajah
(Gramedia.com)

Tari Serimpi adalah tarian sakral yang berasal dari kesultanan Yogyakarta. Tarian ini hanya dipentaskan pada acara-acara penting dan hanya dimainkan dalam lingkungan keraton, sebagai bagian dari acara kenegaraan. Namun dengan perkembangan zaman, tarian ini boleh ditarikan di beberapa acara lainnya, mengingat tarian ini sudah mendunia.

Tari Serimpi  sangat mengandung nilai estetika yang memperlihatkan keanggunan, kecantikan, dan kesopanan sang penari. Gerakan dalam tarian ini sangat lembut dan lemah gemulai dengan diiringi alunan gamelan dan juga adanya tembang-tembang Jawa yang terdengar.

Perpaduan gerakan tari yang lemah gemulai dan alunan gamelan dan tembang Jawa menjadi satu kesatuan yang apik jika diperlihatkan.

  • Tari Klana Alus
Tari Klana Alus » Budaya Indonesia
(Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)

Tari Klana Alus adalah tarian yang berkembang di keraton. Tarian ini diambil dari tokoh Prabu Dasalengkara dalam wayang wong lakon Abimanyu Palakrama yang sedang sedang jatuh cinta pada seorang bernama Dewi Siti Sendari.

Gerak tariannya pun diambil dari salah satu adegan wayang wong Abimanyu Palakrama yang berkarakter halus sesuai dengan tokoh yang ada di dalam wayang Keraton Yogyakarta. Tarian yang halus ini diiringi dengan gending cangklek laras slendro.

  • Tari Beksan Lawung Ageng
Beksan Lawung Ageng, Tarian Pusaka Keraton Yogyakarta Halaman all -  Kompas.com
(Kompas.com)

Tarian khas Jogja ketiga adalah Tari Beksan Lawung Ageng. Tarian ini adalah salah satu tarian Keraton Yogyakarta. Tarian ini terinspirasi dari kegiatan prajurit kerajaan pada era Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beranggotakan laki-laki dan memiliki banyaknya peran dalam tarian, membuat tarian ini terkesan lebih hidup dan beralur. Alunan gamelan pada tarian ini menggunakan iringan gamelan khusus, yaitu Kiai Guntur Sri.

  • Tari Golek Ayun-Ayun
Berkas:Tari Golek Ayun-Ayun 10.JPG - Wikipedia bahasa Indonesia,  ensiklopedia bebas
(Wikipedia)

Tari Golek Ayun-Ayun ini merupakan tarian klasik yang digunakan untuk menyambut tamu dalam acara besar di Jogja. Tarian satu ini cukup terkenal di Jogja. Tarian ini menceritakan tentang wanita muda yang senang bersolek untuk mempercantik diri.

Tarian Golek Ayun-Ayun ini ditarikan oleh dua orang atau lebih. Gerakkan dalam tarian ini lemah gemulai dan dalam gerakkan tertentu para penari seakan seakan sedang menyulam dan dipadukan dengan gerakkan lain.

Tarian satu ini kaya akan makna dan kental akan budaya Yogyakarta. Maka dari itu, siapapun yang melihat tarian ini, pasti akan terpesona dibuatnya.

  • Tari Bedhaya Semang
Kisah Bedhaya Semang dan Tujuh Bidadari
(Koropak)

Tari Bedhaya Semang adalah tari klasik di Istana Kesultanan Yogyakarta yang bertemakan cerita legenda atau sejarah. Tarian ini langsung diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dianggap sebagai pusaka.

Tarian ini disebut Bedhaya karena tarian ini dibawakan secara kelompok putri beranggotakan sembilan penari. Tarian yang disakralkan Keraton Yogyakarta ini berhubungan dengan hal mistis antara keturunan Panembahan Senopati dengan penguasa Laut Selatan atau Ratu Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Karena telah disakralkan, tarian ini hanya ditampilkan untuk kepentingan ritual istana.

  • Tari Golek Menak
Golek Ayun-Ayun - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Wikipedia)

Tari Golek Menak atau yang disebut juga Beksa Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tarian ini membutuhkan waktu yang panjang untuk disempurnakan.

Tarian ini diciptakan berdasarkan ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak pada tahun 1941, maka timbullah ide untuk mementaskan tarian itu.  Tarian ini terkenal dengan kostum yang unik dan menarik.

Setiap gaya busana, gerakan, alur, dan watak tokoh sangat disesuaikan dengan wayang golek. Maka dari itu, proses penyempurnaannya sangat panjang.

  • Tari Golek Lambangsari
Tari Golek Lambang Sari | Paguyuban Dimas Diajeng Jogja
(Paguyuban Dimas Diajeng Jogja)

Tarian Golek Lambangsari merupakan salah satu jenis tari putri klasik gaya Jogja. Tarian ini ditarikan dengan beragam tarian klana alus. Dengan menggunakan koreografi golek dengan gending lambangsari, Tari Golek Lambangsari sangat memikat.

Tarian ini adalah hadiah penobatan Sri Mangkunegara VI dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Perkembangan Tari Golek Lambangsari menjadi tari golek yang paling terkenal dan secara resmi menjadi materi ajar di Kridha Mardawa Kraton Yogyakarta.

  • Tari Beksan Trunajaya

Tari Beksan Trunajaya atau yang disebut juga dengan nama Lawung Ageng atau Beksan Lawung Gagah, diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan tujuan untuk menanamkan semangat dan cita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sultan Agung dalam membela tanah air.

Nama tarian Beksan Trunajaya ini didasarkan menurut nama golongan abdi dalem Tarunajaya, sesuai dengan sifat tariannya yang menggunakan senjata lawung (seperti tombak), dan menggambarkan latihan perang-perangan.

Pementasan tarian ini biasanya di pendapa dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Beksan Trunajaya ditarikan oleh 16 orang penari dengan ragam gerak gagah.

  • Tari Satrio Watang
√ 12 Nama Tarian Yogyakarta dan Penjelasannya
(budayalokal.id))

Tari Satrio Watang atau yang kerap dikenal dengan nama tari Prawiro Watang merupakan tarian tradisional Yogyakarta. Tarian ini menceritakan tentang kegagahan prajurit zaman dulu yang pandai menggunakan senjata.

Sesuai dengan namanya, Satrio yang berarti prajurit dan Watang yang berarti tongkat, tarian ini menggunakan tongkat sebagai ciri khas dalam pentas. Dalam pertunjukannya, Tari Satrio Watang ditarikan oleh laki-laki gagah dan ditarikan secara kelompok maupun tunggal.

  • Tari Langen Asmoro
Tari Tradisional – ayupermatasari21
(ayupermatasari21)

Tarian tradisional Yogyakarta ini menceritakan tentang percintaan. Tarian yang berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menyayangi dan bermesraan. Demi menggambarkan cerita dalam tarian ini, maka tarian ini harus ditarikan secara berpasangan.

Tari Langen Asmoro ditampilkan pada acara pernikahan. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi contoh kepada para pengantin agar selalu bahagia.  Itulah deretan tari tradisional Yogyakarta. Siapapun yang menontonnya pasti terkesima. Pastinya sobat PKG YIA tertarik kan ??

 

sibakul

Sibakul Jogja

You may also like...